Balai Islam KUAZ myspace graphic comments
Myspace Islam Graphics
Salam Alaik to all visitors of this blog. May the contents of this blog benefit you. Insya Allah. Any enquiries or suggestions please send it to:

Hari ini adalah milikku

Waktu Solat

Dapatkan Mesej Bergambar di Sini


Digital Clocks & MySpace Layouts

Keluarga Balai Islam KUAZ

Dalam proses pengemaskinian myspace graphic comments
Islam Graphic Comments

Mutiara Ilmuan

Take time to THINK. It is the source of power

Take time to READ. It is the foundation of wisdom

Take time to QUIET. It is the apportunity to seek God

Take time to DREAM. It is the future made of

Take time to PRAY. It is the greatest power on earth
Pimp My Profile

~Munaqasyah~ myspace graphic comments
Myspace Islam Graphics

~Allah in my heart~


free counter



September 2008
October 2008
November 2008
December 2008
January 2009
February 2009
March 2009
April 2009
May 2009
June 2009
July 2009
August 2009
September 2009
December 2009
January 2010
February 2010
March 2010
July 2010



~Balai Islam UM~

Balai Islam KK1
Balai Islam KK3
Balai Islam KK4
Balai Islam KK7
Balai Islam KK12

Dapatkan Mesej Bergambar di Sini

Dapatkan Mesej Bergambar di Sini


. . .
skin by: Jane
Tuesday, April 28, 2009 @ 12:29 AM
Good Vs Evil

Tazkiyatun Nafs: Purity of the inner self and personality. Every human being has some good and some evil in varying proportions, which is exhibited as Nafs meaning self or personality. Developing the personality is a difficult and time-consuming long-term exercise. It does not have a quick-fix solution such as reciting some extra prayers or supplicating a given number of times or visiting a priest, a grave of a saint or any other form of escapism. It needs constant effort and correction of mistakes, to be undertaken as a serious spiritual project while persistently seeking Allah’s assistance. Such an effort may take months or years. During all this time, we must examine ourselves and strive to pick and discard the undesirable traits and improve on whatever good qualities we have, while bearing God’s presence and pleasure in mind. This is the only way we enhance our personality and gain plus marks in our spiritual ledger for the Hereafter. The progress of human self takes place through the development of divine attributes in the inner self, leading towards perfection.Allah created good and evil both and designated particular actions as virtuous or as evil. Then He left it to us to choose freely and do whatever we wanted. A good act can enhance the personality while an evil one would diminish our spiritual status. By not following in Satan’s footsteps which so courteously escort us to indecencies and shame (Q.24:21), the person or self (Nafs) gets purified (Q.91:7-10). Glorification of Allah’s name combined with prayer aids in purification of the self and leads to prosperity (Q.87:14-15). Allah grants mercy, compassion and purification to those of us who are kind to parents and not rebellious. He also showers peace all the way in this life, then through death via Barzakh, and finally into eternity of the Hereafter (Q.19:13-15). Disbursing the Zakāh also purifies the self, besides purifying the balance of the wealth (Q.92:18). Wearing the Ihrām after bathing during Hajj confers a state of ritual purity to the person. Whoever purifies himself does so for his own benefit (Q.35:18) and for his own spiritual advancement and prosperity (Q.87:14). But, however much we try to sanctify ourselves, in the final analysis, it is Allah Who purifies whom He pleases (Q.4:49).Allah showers His mercy on us after adversities have touched us (Q.10:21). Various ailments which we are afflicted with are not a calamity but a mercy from Allah. Man develops immunity by suffering many infectious diseases. We have developed antibodies to many viruses because we have suffered from diseases caused by them. When we undergo hardships and misfortunes, the Nafs (person) gets purified. Illness for a believer is like a detergent for the human Nafs. It purifies the Nafs from the burden of sins so that it can eventually qualify to reflect in whatever little way Asmā al-Ḥusnā: the beautiful Attributes of Almighty Allah.Most people have a feeling of inner peace and satisfaction with themselves and with their Creator when they are actively involved in relieving the miseries of the poor and the under-privileged, be it through distribution of money or any other form of Sadaqah such as proper advice, guidance and assistance in any form whatsoever. Righteous deeds such as giving charity and other Sadaqas meant to relieve distress from fellow-human beings confer peace and tranquillity to the donor. This inner peace and purity of the donor is paralleled by peace with the Creator, possibly due to the neural connections in the spiritual pathways of the brain, which secrete encephalins, endorphins, serotonin and other neurotransmitters, responsible for the peace, tranquillity, well-being and satisfaction. A continuous flow of encephalins and endorphins in the body requires a continuous state of Taqwā or God-consciousness in life. If such a state of inner peace and bilateral satisfaction between man and Allah continues till the time of death, then it fulfils the main objective in the Du‘a: Wakhtim Biṣ Ṣāliḥāti A‘mālina. “Oh Allah, seal with righteousness our deeds”. It is postulated that this tranquil state may accompany the person through Barzakh into the Hereafter when he appears before his Mālik on the Day of Judgment. The angels tell those whose lives they take in a state of purity; “Salāmun ‘Alaikum! Enter Jannah, because of the good you did” (Q. 16:32).The word “Jihad” is derived either from the Arabic word “Jahd”, meaning exhaustion or the word “Juhd” which means striving. A Mujahid is one who strives in the Cause of Allah and strives his best even to the point of exhaustion. Jihād is an effort to establish a world order where all human beings can live in peace and harmony. Man is constantly fighting a duel in his mind, swinging like a pendulum between the dual areas of good and evil. His striving to improve the self is called the inner jihād, which aims at the ideal in achieving good and overcoming evil. The broader meaning of Jihād may involve doing one’s very best in Allah’s cause. It includes several things such as sacrifice of wealth and talent, suppression of greed, carnal and other desires, fighting for defence of religion and all current evil forces, assisting the oppressed against the oppressor etc. Those who die while engaged in Jihad are considered martyrs. Their bodies need not be washed as they are considered to have died in ceremonial purity.


Saturday, April 25, 2009 @ 3:03 AM
Islam: Akademi Cinta dan kasih-Sayang


Siapapun pasti ingin dicintai dan mencintai. Siapapun pasti merindukan dapat mereguk sebuah cinta indah yang langgeng abadi dan menyejukkan dalam arti sebenarnya. Namun kerinduan untuk mendapatkan dan memberikan perhatian dalam sebuah wadah cinta seringkali salah arah. Kita rindu dengan sebuah keteladanan, namun terkadang kita salah dalam mengambil sosok untuk dijadikan sebagai teladan.

Lihatlah saat ini. Sebagian besar dari kita lebih mengidolakan sosok-sosok yang bukan semakin mendekatkan diri kita dengan kecintaan dan keridhoan Tuhan. Secara sadar atau tidak, sosok-sosok yang diidolakan itu malah semakin menjauhkan diri kita untuk semakin mencintai-Nya, mengenal-Nya dan meneladani utusan-Nya, Rasulullah SAW.

Tidak sadarkah kita, kaum muslimin khususnya, bahwa Rasulullah SAW merupakan Sang Pemimpin pembawa cinta sedunia sepanjang zaman? Diutus oleh Allah SWT untuk membawa cinta bagi seluruh alam, sebagaimana dinyatakan dalam al qur’an, “Sungguh, Ku utus engkau (wahai Muhammad) sebagai cinta kasih sayang untuk semesta alam” (QS. Al Anbiya’:107).

Sungguh, beliaulah Pemimpin akademi cinta yang tak tergantikan sepanjang zaman. Beliaulah idola sejati. Seluruh ajaran yang beliau bawa [Islam] adalah cinta. Lewat Rasulullah lah kita diajarkan mencintai Allah SWT. Lewat Rasulullah lah kita diajarkan cinta kepada seluruh makhluk, tanpa terkecuali. Ajaran islamlah yang mengatur cinta kasih kepada musuh, teman, pada semua yang dikenal maupun tidak dikenal.

Lihatlah bagaimana sapaan cinta dalam islam terhadap sesama saudara seiman, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” (Salam sejahtera untuk kalian dan cinta kasih Allah dan keberkahan-Nya). Bukankah itu merupakan ungkapan cinta? Bukankah ini ajaran cinta yang sangat luhur? Tidakkah kita melihat, bahwa Islam sesungguhnya merupakan samudera cinta? Semakin kita menyelam ke dalamnya maka semakin terendamlah kita dalam air kasih sayang dan cinta. Tidakkah kita melihat bagaimana kita diajarkan untuk saling menjaga keselamatan dan kehormatan satu sama lain? Selamat dari keburukan lidah dan tangan kita.


Kita semua pasti haus akan hidayah dan petunjuk. Kita semua pasti membutuhkan kekuatan yang hakiki, yang tidak lain bersumber dari Yang Maha Agung, Allah SWT. Tiada daya upaya dan kekuatan selain atas izin Allah SWT. Lewat ajaran yang dibawa Rasulullah lah semua itu akan kita peroleh.Layaknya beberapa orang yang kehausan yang menyadari bahwa air merupakan obat tunggal dari kehausan, maka mereka pasti membutuhkan air sebagai pelepas dahaganya agar tidak mati kehausan. Saat mereka mendapati danau yang bening, maka semestinya yang dilakukan adalah mengambil airnya lalu meminumnya, bukan memperdebatkan tentang zat cair tersebut dengan masing-masing pendapatnya sehingga mereka akhirnya mati kehausan. Begitulah semestinya kita memahami.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan hidayah-Nya kepada kita semua, membuka dan melembutkan hati-hati kita, serta memberikan kita kekuatan dan kesempatan untuk terus belajar dan memahami tentang nilai-nilai indah dan mutiara yang terdapat pada islam itu sendiri.

Wallahu a’lam.

(Tulisan Tanggapan tentang “Akademi Cinta” dari Seorang Guru dengan Sedikit Tambahan dan Gubahan)
Dipetik daripada


Saturday, April 18, 2009 @ 6:12 PM
Ilmu and 'Amal

Dearest Tholibul Ilm,
Dearest Muslims Students,

Al-Hasan al-Basri used to say:
“Do not be like one who studies like a scholar but acts like a fool.”

Ya Rabb, protect us from seeking Your Knowledge for knowledge sake's alone. Amin!


Tuesday, April 14, 2009 @ 10:28 PM
The Most Beneficent!

Then, which of the favours of Your Lord will ye deny?

Maka, ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Nikmat yang mana yang kamu dustakan!?
Sesungguhnya tidak ada yang dapat kami dustakan Ya Rabb...
Segala nikmatMu itu benar...


@ 9:21 PM
Menempuh Jalan dan Mengenal Diri

Bersuluk, artinya ‘menempuh jalan’. Jalan yang dimaksud adalah ‘jalan kembali kepada Allah’, yaitu ‘jalan taubat’ (ingat asal kata ‘taubat’ adalah ‘taaba’, artinya ‘kembali’), atau jalan ad-diin.

‘Suluk’ secara harfiah berarti ‘menempuh’, (Sin - Lam - Kaf) asalnya dari Q.S. An-Nahl [16] : 69,

“…dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (untukmu).”

(Q. S. An-Nahl [16] : 69)

‘Menempuh jalan suluk’ berarti memasuki sebuah disiplin selama seumur hidup untuk menyucikan qalb dan membebaskan nafs (jiwa) dari dominasi jasadiyah dan keduniawian, dibawah bimbingan seorang mursyid sejati (yang telah meraih pengenalan akan diri sejatinya dan Rabb-nya, dan telah diangkat oleh Allah sebagai seorang mursyid bagi para pencari-Nya), untuk mengendalikan hawa nafsu, membersihkan qalb, juga belajar Al-Qur’an dan belajar agama, hingga ke tingkat hakikat dan makna. Dengan bersuluk, seseorang mencoba untuk beragama dengan lebih dalam daripada melaksanakan syari’at saja tanpa berusaha memahami. Orang yang memasuki disiplin jalan suluk, disebut salik (bermakna ‘pejalan’).

Ber-suluk –bukan– mengasingkan diri. Ber-suluk adalah menjalankan agama sebagaimana awal mulanya, yaitu beragama dalam ketiga aspeknya, ‘Iman’ - ‘Islam’ - ‘Ihsan’ (tauhid - fiqh - tasawuf) sekaligus, sebagai satu kesatuan diin Al-Islam yang tidak terpisah-pisah. Secara sederhana, bisa dikatakan bahwa bersuluk adalah ber-thariqah, walaupun tidak selalu demikian.

Yang dilakukan, adalah setiap saat berusaha untuk menjaga dan menghadapkan qalb nya kepada Allah, tanpa pernah berhenti sesaat pun, sambil melaksanakan syari’at Islam sebagaimana yang dibawa Rasulullah saw. Amalannya adalah ibadah wajib dan sunnah sebaik-baiknya, dalam konteks sebaik-baiknya secara lahiriah maupun secara batiniah. Selain itu ada pula amalan-amalan sunnah tambahan, bergantung pada apa yang paling sesuai bagi diri seorang salik untuk mengendalikan sifat jasadiyah dirinya, mengobati jiwanya, membersihkan qalbnya, dan untuk lebih mendekat kepada Allah.

“Tidak ada cara ber-taqarrub (mendekatkan diri) seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku sukai selain melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Aku fardhu-kan kepadanya. Namun hamba-Ku itu terus berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan (sunnah) nawafil, sehingga Aku pun mencintainya. Apabila ia telah Aku cintai, Aku menjadi pendengarannya yang dengan Aku ia mendengar, (Aku menjadi) pengelihatannya yang dengan Aku ia melihat, (Aku menjadi) tangannya yang dengan Aku ia keras memukul, dan (Aku menjadi) kakinya yang dengan Aku ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, sungguh, akan Aku beri dia, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, Aku benar-benar akan melindunginya.”

(Hadits Qudsi riwayat Bukhari).

Dasar segala amalan adalah Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah, demikian pula amalan-amalan dalam suluk. Suluk tidak mengajarkan untuk meninggalkan syariat pada level tertentu. Syariat (bahkan hingga hakikat dari pelaksanaan syariat) tuntunan Rasulullah wajib dipahami dan dilaksanakan oleh seorang salik, hingga nafasnya yang penghabisan.

Dimana? Dimana pun, kapan pun. Setiap saat, selama hidup hingga nafas terakhir kelak. Kenapa? Karena sebagian orang ingin memahami makna hidup, makna Al-Qur’an, ingin hidup tertuntun dan senantiasa ada dalam bimbingan Allah setiap saat. Sebagian orang ingin memahami agama, bukan sekedar menghafal dalil-dalil beragama.

Jadi, bersuluk kurang lebih adalah ber-Islam dengan sebaik-baiknya dalam sikap lahir maupun batin, termasuk berusaha memahami kenapa seseorang harus berserah diri (ber-Islam), mengetahui makna ‘berserah diri kepada Allah’ (bukan ‘pasrah’), dalam rangka berusaha mengetahui fungsi spesifik dirinya bagi Allah, untuk apa ia diciptakan-Nya.

Dengan mengetahui fungsi spesifik kita masing-masing, maka kita mulai melaksanakan ibadah (pengabdian) yang sesungguhnya. Sebagai contoh, shalatnya seekor burung ada di dalam bentuk membuka sayapnya ketika ia terbang, dan shalatnya seekor ikan ada di dalam kondisi saat ia berenang di dalam air. Masing-masing kita pun memiliki cara pengabdian yang spesifik, jika kita berhasil menemukan fungsi untuk apa kita diciptakan-Nya.

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya ber-tasbih kepada Allah siapa pun yang ada di petala langit dan bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalat-nya dan cara tasbih-nya masing-masing. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan.”

(Q. S. An-Nuur [24] : 41)

Inilah ibadah (pengabdian) yang sejati: beribadah dengan cara melaksanakan pengabdian pada Allah dengan menjalankan fungsi spesifik diri kita, sesuai dengan untuk apa kita diciptakan-Nya sejak awal. Fungsi diri yang spesifik inilah yang disebut dengan ‘misi hidup’ atau ‘tugas kelahiran’, untuk apa kita diciptakan.

Sebagaimana sabda Rasulullah:

Dari Imran ra, saya bertanya, “Ya Rasulullah, apa dasarnya amal orang yang beramal?” Rasulullah saw. menjawab, “Tiap-tiap diri dimudahkan mengerjakan sebagaimana dia telah diciptakan untuk (amal) itu.”

(H. R. Bukhari no. 2026).


“…(Ya Rasulullah) apakah gunanya amal orang-orang yang beramal?” Beliau saw. menjawab, “Tiap-tiap diri bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya.”

(H. R. Bukhari no. 1777).

Tiap-tiap diri. Setiap orang. Spesifik. Masing-masing memiliki suatu alasan penciptaan, sebuah tugas khusus, sebuah amanah ilahiyah. Ketika seseorang menemukan tugas dirinya, Allah akan memudahkan dirinya beramal dalam pengabdian sejati berupa pelaksanaan akan tugas itu. Ia akan menjadi yang terbaik dalam bidang tugasnya tersebut. Jalan ‘yang dimudahkan kepadanya’ inilah jalan pengabdian yang sesuai misi hidup, sesuai untuk apa kita diciptakan Allah, sebagaimana Q. S. 16 : 69 tadi, “… tempuhlan jalan Rabb-mu yang dimudahkan (bagimu).”

Agama-agama timur mengistilahkan hal ini dengan kata ‘dharma’. Para wali songgo di Jawa zaman dahulu memberi istilah ‘kodrat diri’ atau kadar diri, sesuai istilah dalam Qur’an. Ada juga yang menyebutnya dengan ‘jati diri’.

Segala sesuatu diciptakan Allah dengan ketetapan, dengan tugas, dengan ukuran fungsi spesifik tertentu. Demikian pula kita masing-masing, dan berbeda untuk tiap-tiap orang. Al-Qur’an mengistilahkan hal ini dengan qadar. “Inna kulli syay’in khalaqnaahu bi qadr.”

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadr.”

(Q. S. Al-Qamar [54] : 49)

Kita, karena ke-Mahapenciptaan Allah, mustahil diciptakan-Nya secara ‘murahan’ dan ‘tidak kreatif’ sebagai sebuah produk massal. Kita sama sekali bukan mass-product, karya generik. Masing-masing kita dirancang Allah secara spesifik, tailor-made orang-per-orang, dengan segala kombinasi kekuatan dan kelemahan yang diukur dengan presisi oleh tangan-Nya sendiri.

Masing-masing kita diciptakan-Nya dengan dirancang untuk memiliki sekian kombinasi ‘kadar’ keunggulan pada sisi tertentu dan kelemahan pada sisi lainnya, demi kesesuaian untuk melaksanakan sebuah tugas, demi melaksanakan sebuah misi.

Menemukan ‘misi hidup’ adalah menemukan qadr diri kita sendiri sebagaimana yang tersebut pada ayat di atas, sehingga kita memahami untuk (fungsi) apa kita diciptakan. Kita menemukan qudrah Allah yang ada dalam diri kita sendiri. Inilah maksudnya ‘mengenal diri’ dalam hadits “man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu.”.

“Siapa yang mengenal jiwa (nafs)-nya, akan mengenal Rabb-nya.”

Tentu saja, dengan mengenal jiwa (nafs) otomatis juga mengenal Rabb, karena pengetahuan tentang fungsi dan kesejatian diri kita hanya bisa turun langsung dari sisi Allah ta’ala dan bukan dikira-kira oleh kita sendiri. Turunnya pengetahuan sejati (’ilm) tentang ini bukan kepada jasad maupun kepada otak di jasad kita ini; melainkan hanya kepada jiwa (nafs), diri kita yang sesungguhnya. Dalam jiwa (nafs) kitalah tersimpan pengetahuan tentang diri dan pengetahuan tentang Allah, karena nafs-lah yang dahulu mempersaksikan Allah dan berbicara dengan-Nya, sebagaimana diabadikan oleh Al-Qur’an di surat Al-A’raaf [7] : 172;

“Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan dari bani Adam, dari punggung mereka, keturunan-keturunan mereka, dan mengambil kesaksian terhadap jiwa-jiwa (nafs-nafs; anfus) mereka (seraya berkata): ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu.’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami bersaksi’….”

(Q. S. [7] : 172)

Ketika kita mengenal jiwa (nafs), kita mendapatkan pengetahuan tentang Allah, qudrah Allah dan qadr diri yang tersimpan dalam jiwa kita. Dengan demikian, kita pun mengenal Allah dan juga mengenal fungsi spesifik untuk apa kita diciptakan-Nya (mengenal diri). Dengan melaksanakan fungsi tersebut, maka kita pun melaksanakan pengabdian yang sejati kepada Allah sesuai tujuan-Nya menciptakan kita. Kita mulai mengabdi (ya’bud) di atas agama-Nya (Ad-Diin) dengan hakiki. Inilah maksud perkataan sahabat Ali r. a. yang termasyhur: “Awaluddiina Ma’rifatullah.”

“Awal Ad-Diin adalah mengenal Allah (ma’rifatullah)” (Sahabat Ali r. a.)

Demikianlah pengabdian (ibadah) yang hakiki. ‘Ibadah’ bukanlah sekedar puasa, shalat, zakat, dan semacamnya; melainkan jauh, jauh lebih dalam dari itu. ‘Ibadah’ berasal dari kata ‘abid, bermakna, ‘abdi’, ‘hamba’, atau ‘budak’. ‘Ibadah’ pada hakikatnya adalah sebuah pengabdian, atau penghambaan diri. Dan pengabdian yang hakiki adalah pengabdian dengan menjalankan tugas ilahiyah sesuai dengan keinginan-Nya, menurut kehendak-Nya, untuk fungsi apa Dia menciptakan kita.

Demikian pula, status ‘Abdullah’ (’abdi Allah/hamba Allah) maupun ‘Abdina’ (hamba Kami) adalah mereka yang sudah mengenali tugasnya dan sudah berfungsi sesuai dengan yang sebagaimana Allah kehendaki bagi dirinya. ‘Hamba Allah’ adalah sebuah status yang tinggi.

Sekarang, insya Allah kita jadi sedikit lebih memahami makna ‘dalam’ dari ayat tujuan penciptaan jin dan manusia, “wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduun.”

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah mengabdi/menghamba (ya’bud) kepada-Ku.”

(Q. S. Adz-Dzariyaat [51] : 56)

Demikian pula pada Q. S. Al-Faatihah [1] : 5,

“Kepada Engkau kami mengabdi/menghamba (‘na’bud’,* dari ‘abid,), dan kepada Engkau kami memohon pertolongan.”

(Q. S. Al-Faatihah [1] : 5)

Semoga kelak kita diizinkan Allah mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki, dengan dijadikan Allah termasuk ke dalam golongan ‘Abdullah’.

Dipetik daripada


Monday, April 6, 2009 @ 5:23 PM
Solat Hajat dan Bacaan Yasin

Allahumma shalli 'ala Rasulil Karim,
Sayyidina Muhammad saw,
wa 'ala alihi wa sahbihi ajma'in,
radhiyaAllahu 'anhum

Dijemput semua ahli Balai Islam serta mereka yang terlibat dengan projek di bawah anjuran Balai Islam, (Ihram, D'Gardens dan Malam Penghayatan Islam) untuk iftar bersama. Selepas itu, akan diadakan USRAH JAMAIE' yang terakhir Balai Islam sesi 08/09.

Semua dijemput hadir.

Semoga segala kerjasama dan amanah yang digalaskan dipandangNya sebagai ibadah dan membawakan hasil yang bermanfaat, selari dan selaras dengan kehendakNya, keredhaanNya dan rahmatNya serta RasulNya, Muhammad s.a.w.



@ 4:23 PM
Doa dan Wirid Untuk Pelajar/ Doa and Wirid for students

doa dan wirid untuk pelajar doa dan wirid untuk pelajar jamaluddin arabi


Sunday, April 5, 2009 @ 11:45 PM
kemunafikan dan tipu daya

"Aku mendapati tiga puluh orang sahabat yang mengikuti Perang Badar, mereka semua mengkhawatirkan kemunafikan atas diri mereka, dan tidak mereka merasa aman terhadap tipu daya agamanya, tidak seorang di antara mereka yang mengatakan bahwa dirinya beriman seperti imannya Jibril dan Mikail."

Diriku dan Saudaraku,

Sahabat yang mengikuti Perang Badar bukan calang-calang orang. Di antara mereka sudah dijamin Syurga oleh Allah menerusi lisan RasulNya yang mulia. Akan tetapi, mereka masih khuatir akan berlakunya kemunafikan di dalam diri mereka. Mereka tidak pernah merasa aman akan tipu daya di dalam beragama.

Diriku dan Saudaraku,

bagaimanakah keadaan kita?

Ya Rabb,
jika selama ini,
kemunafikan belaka,
mohon ampunanMu Ya Rabb,

Ya Rabb,
jika selama ini,
melakukan dosa berhiaskan agama,
mohon ampunanMu Ya Rabb,

Ya Rabb,
jika selama ini,
tipu daya semata,
mohon ampunanMu Ya Rabb,

Zahirnya baik,
batinnya tidak jua dimengerti,

Ya Rabb,
Ya 'Alim,
Igfirli zunubi,
Ya Rabb,
ampunkanlah kemunafikan ini,
ampunkanlah tipu daya ini.

Ya Tawwabur Rahim,
Ya Arhamar Rahimin,
Ya Halim,
Ya Lathif,
hamba menzalimi dirinya sendiri.


Saturday, April 4, 2009 @ 3:42 PM
Erti tawadhuk

Petikan dari buku ‘ Ketika Cinta Bertasbih’- karya Habiburrahman El Shirazy

“Kali ini kita hayati bersama kalimah Ibnu Athailah yang berbunyi: Laisa al-Muthawadhi’u al-laziiza tawadha’a ra’a annahu fauqa ma shana’… yang bererti bukanlah orang yang tawadhuk atau merendahkan diri, seorang yang jika merendah diri berasakan dirinya di atas yang dilakukannya

Misalan yang mudah, katakan dalam suatu majlis ada seseorang berasa tawadhuk dengan duduk di belakang. Tetapi dalam masa yang sama dia berasa yang sesuai bagi dirinya ialah di atas, iaitu duduk di bahagian hadapan majlis. Maka orang seperti ini bukanlah orang yang merendah diri melainkan orang yang sombong.

Lalu, bagaimanakah orang yang benar-benar tawadhuk itu? Orang yang benar-benar merendahkan dirinya itu bagaimana sebenarnya?

Ibnu Athailah mengatakan di baris berikutnya: Wa Lakin al- mutawadhi’ iza tawadha’a ra-a annahu duna ma shana’a. Ertinya, tetapi orang yang benar-benar merendahkan diri dia berasa berada di bawah sesuatu yang dilakukannya. Misalnya, katakan dalam suatu majlis ada orangdipaksakan duduk di bahagian yang agak depan. Kerana dipaksa atau terpaksa, dia pun duduk di situ. Dalam masa yang sama dia berasa dirinya sepatutnya berada di belakang. Ini dia orang yang merendah diri.

Misalannya lagi, katakan dalam sesebuah masyarakat itu ada seseorang yang dimuliakan dan dihormati ramai orang, namun dia selalu berasa dirinya belum layak bahkan tidak layak menerima penghormatan seperti itu. Inilah orang yang tawadhuk.

Jemaah yang dimuliakan. Tawadhuk adalah sifat orang-orang yang mulia. Tawadhuk adalah sifat para nabi dan rasul. Yang berlawanan dengan tawadhuk ialah takbur, sombong, dan seumpamanya. Ulamak bersepakat bahawa takbur itu haram dalam Islam.

Sombong adalah sifat yang dimiliki oleh Allah. Hanya Dia. Dia yang lebih berhak memiliki sifat ini. Tidak boleh ada satu pun makhluk yang menyaingi-Nya., dalam hal ini. Siapa yang menyaingi Allah dan berasa berhak memiliki sifat takbur ini, bermakna dia berhak menjadi Tuhan manusia. Orang seperti ini pasti dimurkai Allah. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, ’Sombong adalah selendang-Ku, dan agung adalah pakaian-Ku. Siapa yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari kedua-duanya maka akan-Ku lemparkan ke dalam Neraka Jahannam.’ ( Hadis Riwayat Ibnu Majah, Ahmad dan Muslim)

Kerana rasa sayang dan cinta, Allah memerintahkan Rasulullah s.a.w untuk tawadhuk. Lalu, dengan sebab rasa sayang dan cinta juga Rasulullah s.a.w bersabda,’Sesungguhnya Allah swt. Memerintahkan aku agar tawadhuk. Jangan sampai ada salah seorang menyombongkan diri pada orang lain. Jangan sampai ada yang bongkak pada orang lain. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ibnu Majah dan Abu Daud)

Rasullulah s.a.w adalah teladan terbaik bagi orang yang berakhlak mulia. Baginda s.a.w adalah makhluk Allah yang paling mulia dan juga orang yang paling tawadhuk dalam sejarah umat manusia. Sejak muda Rasullulah s.a.w selalu merendahkan diri.

Contoh yang menggetarkan jiwa kita, tentang baginda Rasullulah s.a.w menjadi penggembala kambing. Dengan menggembala kambing bukan saja baginda telah merendahkan diri pada manusia bahkan juga pada binatang. Baginda tidak berasa canggung hidup di tengahkambing yang berbau busuk dan kotor itu. Baginda menjaga dan melayani kambing-kambing itu dengan penuh kasih-sayang. Jika ada kambing yang beranak, baginda membantu dan merawatnya. Tidak ada jurang antara baginda dengan kambing yang digembalanya itu. Rasullulah s.a.w tawadhuk bukan saja terhadap manusia juga pada binatang ternakannya itu.

Contoh lain darisifat tawadhuk Rasullulah s.a.w itu ialah baginda sanggup makan makanan yang jatuh ke tanah. Dalam Sirah Nabawiyah kita akan dapati pada setiap kali ada makanan jatuh ke tanah, pasti baginda memungutnya lalu dibersihkan. Baginda membuang kekotoran yangada, lalu makanan yang sudah bersih itu dimakannya. Baginda tidak berasa hina atau segan dan sebagainya.

(Ketika Cinta Bertasbih : 298-303)


Thursday, April 2, 2009 @ 3:22 AM
Menyemai terus cinta ini

اللهم صل على نورِ الأنْوَارِ، وسِرِّ الأسْرارِ، وتِرْياقِ الأغْيارِ، ومِفْتاحِ بَابِ اليَسَارِ، سيدنا محمد المُخْتارِ وآله الأطهار، وأصحابه الأخيار عدد نِعَمِ الله وإفْضَالِهِ

Ya Allah limpahkanlah rahmat kepad cahaya dari segala cahaya, rahsia dari segenap rahsia, penawar duka dan kebingungan, pembuka pintu kemudahan, yakni junjungan kami Nabi Muhammad s.a.w. yang terpilih, keluarganya yang suci dan para sahabatnya yang mulia sebanyak hitungan nikmat Allah dan kurniaNya.


@ 3:11 AM
Motivasi Ustaz Akhil Hayy

Allahumma shalli 'ala Rasulil Karim,
Sayyidina Muhammad saw,
wa 'ala alihi wa sahbihi ajma'in radhiyaAllahu 'anhum.

Ikhlaskanlah untukMu dan keranaMu.
Inna kunna mina zhalimin.

3 April 2009, Jumaat, 8.00 - 11.00 malam
Dewan Pendeta, Kolej Kediaman Ungku Aziz
Pembayaran masuk: 3 ringgit sahaja

Sebarang pertanyaan, sila hubungi
Afiq: 013-2029891
Aishah: 013-2966149